Senin, 31 Agustus 2015

CINTAI IBUMU




RAHASIA CINTA IBUMU

“Seorang wanita laksana bunga yang indah dan harum di dalam bejana. Maka hidulah dia dengan lembut, jangan mengasarinya.” Pribahasa Arab

“Seorag ibu selalu harus berpikir dua kali, sekali untuk dirinya dan sekali untuk anaknya.”

Bayi adalah keajaiban yang demikian manakjubkan dalam hidup, Masyaallah.

Sejak awal kehamilan, cintanya pada bayinya yang masih dalam kandungan itu begitu jelas dan nyata. Dia memperhatikan makanan dan minumannya, menjaga gerak-geriknya, dan mencemaskan banyak hal lain yang sebelumnya tidak pernah dia pedulikan.

Allah telah mengingatkan kita bagaimana kita diciptakan oleh-Nya dalam rahim ibu kita...
“Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan[1306]. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Q.S Az Zumar: 6)

[1306]  tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.


Betapa beruntungnya ia karena sekarang dia sudah diangkat oleh Allah ke kedudukan yang sangat tinggi dalam hidup. Ya, itu betul. Dia seorang ibu! Ibu adalah status istemewa yang Allah limpahkan kepada perempuan-prempuan pilihan sejak penciptaan manusia pertama kalinya sampai hari ini.

Menjadi ibu adalah sesuatu yang diimpi-impikan oleh sebagian besar atau semua wanita di bumi ini, namun tidak semua dari wanita atau istri mendapat kehormatan itu.

Kedudukan terhormat ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika beliau menasihati seorang sahabat agar memperlakukan sang ibu dengan baik.

Mu’wiyah Ibn Jahimah r.a menuturkan bahwa dia pernah menemui Nabi Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah! Aku berniat pergi berjihat. Aku datang menemuimu untuk meminta nasehatmu.” Nabi bertanya kepadanya, “Apakah ibumu masih hidup?” “Ya,” jawabnya Jahimah. Kemudaian Nabi berkata, “Teguhlah berbakti kepadanya karena surga terletak di bawah telapak kakinya.” (HR. An Nasa’i)

Surga! Masyaallah. Coba bayangkan status yang diberikan Allah kepada perempuan-perempuan istemewa yang disebut ibu ini.

Apakah kita sudah benar-benar memahami pentingnya hadis ini?
Mampukah kita untuk sekedar mulai memahami dan menghargai kemuliaan dan tingginya status ibu kita?
Sanggupkah kita mengerti bagaimana status seorang wanita dinaikkan begitu dia melahirkan seorang anak?
Para wanita yang sudah jadi ibu itu pastilah makhluk-makhluk yang sangat istemewa hingga diberi kedudukan yang demikian hebat oleh Allah, bukankah begitu!

Suatu kali, Nabi Muhammad Saw. membahas bagaimana kita semua harus menghormati dan mendampingi ibu kita.

“Abu Hurairah r.a berkata; “seseorang laki-laki menemui Rasulullah Saw. dan berkata, ‘Ya Rasulullah, siapakah di antara keluargaku yang paling berhak kudampingi?’ Nabi berkata, ‘ibumu.’ Laki-laki itu bertanya, ‘lalu siapa?’ Nabi berkata, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘kemudian siapa?’ Beliau berkata, ‘Ibumu.’ Laki-laki itu bertanya kembali, ‘setelah itu siapa?’ Nabi menjawab, ‘ayahmu.’” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Subhanallah, Mahasuci Allah. Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa ibu kita tidak hanya sangat penting bagi kita jika kita ingin masuk Surga, tetapi juga mereka harus menjadi fokus utama kita di dunia ini bila dibandingkan dengan manusia-manusia lain. Ibu kitalah yang oleh Allah telah ditetapkan sebagi orang yang paling layak kita dampingi di dunia ini.

Jika kita sedang berbincang dengan seorang teman, lalu ibu kita memanggil, apa yang mestinya kita lakukan? Jika sedang membaca dan ibu kita memanggil, apakah kita memintanya menunggu dengan berkata “Sebentar,”  atau apakah kita langsung menutup buku dan datang kepadanya? Jika kita sedang tidur dan ibu kita memanggil, apakah kita harus turun dari ranjang atau berpura-pura tidak dengar? Jawabannya ada di sana dalam hadis itu.

Selagi aku merenungkan cerita-cerita yang sering kudengar tentang anak yang tidak memperlakukan orang tuanya sebagaimana mestinya, aku teringat ayat dari Al Qur’an surat Q.S Al Israa: 23-24.

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil". “(Q.S Al Israa: 23-24')

[850]  mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

“Aku sangat mujur dapat mengenal seorang ibu yang sudah tidak bisa meninggalkan tempat tidur tetapi begitu beruntung dan diberkahi karena mempunyai seorang putra yang mengamalkan ayat di atas. Selama bertahun-tahun, berkali-kali aku menyaksikan bagaimana ketika ibu itu memanggil, sang putra akan langsung meletakkan apapun yang sedang dia kerjakan dan bergegas menemui ibunya. Dia memandikan, menyuapi, dan duduk disamping ibunya hampir setiap detik dia ada didalam rumah. Sang putra, yang belum menikah dan anak simata wayang, merawat ibunya sepanjang hidupnya. Hatiku terharu setiap kali teringat cinta pria ini kepada ibunya. Aku sungguh-sungguh berharap suatu hari kelak punya anak laki-laki seperti pria itu, Insya’Allah.”

Tidakkah kita semua ingin punya putra atau jadi seperti dia?
Suah pasti, betul-tidak? Kalau begitu, mangapa kita tidak memperlakukan ibu kita seperti pria yang luar biasa ini memperlakukan ibunya?

Jelaslah, ibu pria ini tercantum dalam “Daftar prioritasnya.” Di sanalah ibu kita sendiri semestinya berada, bukankah begitu? Orang nomor satu dalam prioritas kita. Mari pikirkan. Di mana posisi ibu kalian dalam daftar ini?


Kalian ingat yang dikatakan yusuf Islam dalam lagunya, My Mother? Dia bertanya, “Siapa yang selalu memeluk kita, membersihkan dan memandikan kita, menyuapi kita, dan menemani kita sambil memeluk erat-erat saat kita sakit? Bagaimana dengan satu-satunya orang yang bisa mendengar kita sebelum kita bisa berbicara? Menuntun kita sebelum kita sebelum kita bisa berjalan? Dan menangkat kita dan membersihkan luka bila kita jatuh?”

Benar, teman-temanku! Tak lain dan takbukan, ia ialah ibu kita. Ibu kita...

Izinkan aku bertanya!
Adakah di sini orang yang bukan putra atau putri seseorang?
Sudah tentu siapa pun di sini dibawa ke dunia ini oleh seorang perempuan, seorang ibu. Dan perempuan inilah yang menunggu sekian jam dengan rasa sakit sewaktu melahirkan, melewatkan malam-malam tanpa tidur, dan menahan perasaan, hanya demi kita hidup, bahagia, dan sehat di dunia ini.

Tak ada laki-laki yang sanggup melakukan tugas ini!

Sayangnya, meski kita berulang kali diingatkan mengenai pentingnya menghormati, manyayangi, menjaga, berbakti, dan patuh kepad ibu kita, sering kali itulah yang tidak kita lakukan.

Pernahkah, kalian pikirkan mengapa kadang-kadang dorongan untuk tidak patuh itu begitu kuat?
Mengapa kita sepertinya selalu terdorong untuk berkata, “Nanti, Bu!” bila ibu kita meminta tolong untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga?
Terdorong untuk melawannya?
Menolaknya?
Mengapa orang-orang kadang merasa bahwa merawat ibu mereka yang sudah tua adalah beban?
Yah! Kita bisa melihat bukti-bukti kecenderungan ini dari semakin banyaknya panti wreda, betul-tidak?

Mari kita renungkan lagi hadis yang diakhiri dengan kalimat ini “... Nabi Saw berkata, ‘Teguhlah berbakti kepadanya karena Surga terletak di bawah telapak kakinya.”

Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah..., semoga Allah mengampuniku. “Aamiin”.

Inilah sebabnya mengapa kita mersakan dorongan itu. Aku benar-benar bisa memahami sekarang!

Kurasa cara paling sederhana untuk memandang masalah ini adalah begini.
Pada ibu kitalah Surga terletak, betul-tidak??? Nah, sekarang aku ingin bertanya. Siapa yang tidak ingin kita masuk surga? Ayolah, kita sudah tahu jawabannya.

Benar, jawabannya adalah setan, iblis, makhluk yang melanggar perintah Allah. Nah, apa janji mereka kepada Tuhan kita???

Coba pikirkan lagi. Gara-gara kita (manusia), Setan dan anak buahnya dihukum ke Neraka-neraka itu, sebagai penebus balas dendam, mereka sudah berikrar akan mengajak sebanyak mungkin manusia untuk menemani mereka. Sebenarnya, mereka ingin selurauh umat manusia mendampingi mereka melangkah si atas “karpet merah” menuju Neraka. Seperti konvoi bersama-sama, besar-besaran. Semakin banyak maka semakin meriah, betul-tidak???

Dalam hal ini, tidak! Naudzubillah, kami berlindung kepada Allah, dari godaan setan yang terkutuk.

Nah, sekarang ayu kita rangkum saja seluruh informasi ini. Sesudahnya, kita tentu bisa menjawab pertanyaan mengapa kita selalu terdorong untuk melawan ibu kita.

Inilah kata-kata kuncinya:
[Ibu] [Kunci] [Surga] [Setan] [Mendampingi] [Neraka].

Sudah terjawab teka-tekinya???  Astagfirullah.

“Setann brengsek. Paling brengsek!” (dari Ummah Filem dalam salah satu klipnya). Dia benar sekali.
Sekarang izinkan aku untuk menyampaikan cerita yang dikutip dari buku LOVE IS THE WINE, karya Syeikh Muzaffer Ozak. Langsung saja...

Pada suatu hari, Ibrahim bin Adham mencoba memasuki sebuah tempat mandi umum. Si penjaga menghentikannya dan meminta ongkos masuk. Ibrahim tertegun dan mengaku bahwa dia tidak punya uang.
Si penjaga menjawab, “Kalau tidak punya uang, kau tidak boleh masuk.” Ibrahim memekik dan tersungkur ketanah sambil terisak sedih. Seorang pejalan kaki berhenti untuk menghiburnya. Seseorang menawarinya uang agar dia bisa masuk ke tempat mandi umum itu.
Ibrahim bin adham berkata, “Aku menagis bukan karena ditolak masuk. Ketika penjaga itu meminta uang masu, aku teringat sesuatu yang membuatku menagis. Jika aku tidak diperbolehkan masuk ketempat mandi umum di dunia ini kecuali jika membayar ongkos, apa ada harapan bagiku untuk diperbolehkan masuk Surga? Apa jadinya aku bila mereka menuntut, ‘Amal baik apa yang kaubawa? Apa yang sudah kau perbuat hingga kau layak diizinkan masuk surga?’ Persis seperti aku ditolak masuk tempat mandi ini karena aku tidak bisa membayar, sudah pasti aku akan ditolak masuk Surga jika aku tidak punya amal baik. Itulah sebabnya aku menagis dan meratap.”
Semua yang mendengarkan pun merenungkan hidup dan amalan mereka sndiri, dan mereka mulai menangis barsama Ibrahim bin Adham.

Astaghfirullah..., Betapa banarnya kata-kata yang dituturkan itu! Sewaktu membaca cerita ini, aku menyadari sesuatu. Tidak perlu otak genius untuk menyadari alur cerita ini
Satu tiket menuju Surga, menuju tempat tingga abadi kita, terletak pada kepatuhan dan rasa bakti kita kepada ibu kita. Beliau adalah salah seorang pemegang tiket dan menyimpannya salah satu tiket kita untuk masuk Surga.

Aku ingin bertanya. Apakah kalian mau tiket manuju Surga, teman-temanku yang seiman? Apakah kalian masih punya kesempatan untuk membuat pemenang tiket kalian bahagia? Apakah kalian masih punya kesempatan untuk berbakti kepada mereka? Untuk berbicara dengan lembut kepada mereka? Untuk bersikap baik kepada mereka? Bagaimana?

Jangan bisrkan kesempatan kalian terbuang percuma, saudara-saudaraku yangseiman yang ku sayangi. Jika pemegang tiket kita masih ada bersama kita saat ini. Ciumlah tangannya (orangtua), dan buat dia (mereka) bahagia. Belailah wajahnya, dan katakan kau mencintainya. Pergilah dan penuhilah tanggung jawabmu supaya kau diperbolehkan masuk ke satu-satunya tempat kita ingin berada untuk selama-lamanya. Surga.
Pergilah....

Dari Abdullah bin 'Amr beliau berkata; Rasulullah Saw. bersabda; Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua (H.R.Al-Baihaqy)
Rasulullah Saw. telah bersabda,”Ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.” (Riwayat Ath Thabarani, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Ridha Allah terletak kepada ridha kedua orangtua, karena Allah memerintahkan untuk mentaati orangtua. Barangsiapa yang mentaati perintah Allah ini, maka Allah akan meridhainya dan barang siapa menolak taat kepada-Nya maka Ia pun murka. Al Hafidz Al Iraqi menjelaskan bahwa ini mirip dengan ungkapan, “Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Namun tetap disyaratkan bahwa keridha’an dan kemurkaan orangtua masih dalam hal yang diperbolehkan oleh syariat.”
“Allaahummaghfirlii waliwalidayya warkhamhumaa kama rabbayaanii shoghiiraa”
Ya Allah Ya Tuhan ku, ampunilah aku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sejak kecil.. Aamiin


“Allahummashlih lii sya’nii wa tsbbitnii bilqaulits tsaabiti fiil hayaatid dunyaa wal aakhirati”
Ya Allah, perbaikilah keadaanku dan teguhkanlah imanku dengan ucapan yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat.. Aamiin



Sumber:

Al Qur’an
Hadis
A. bakar, zabrina. (2008). Satu Tiket Kesurga. Jakarta selatan: Pt Cahaya Indah Suci
Ozak , Muzaffer. (2009). Love is the Wine: Talks of a Sufi Master in America. Edisi 2. America: Hohm Press

49/3@cab1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar